PANTON ATJEH
1. Aneuk bangai tungang
Na gle jipeugot keu blang
Na rumoh jipeugot keu rangkang
Analisa :
Pantun tersebut mengisahkan tentang seseorang yang tidak bisa memanfaatkan sesuatu yang ada. Bahkan yang sudah ada pun dibuatnya tidak berguna, seperti “Na rumoh jipeugot keu rangkang”, artinya dalam bahasa indonesia “Rumah yang besar dan bisa ditempati diubah menjadi sebuah gubuk yang kecil sehingga manfaatnya berkurang dari yang sudah ada sebelumnya”. Inilah yang dikatakan orang “Bangai Tungang”.
2. Meunyo pijet taboh bak sapai
Ka teunte gatai tateume rasa
Meunyo sulet taboh keu pangkai
Ka teunte kanjai tadjoek keu laba
Analisa :
Kalau kita memulai sesuatu dengan kebohongan, kemunafikan, kedustaan, maka ia akan mendapat hasil dari kebohongannya itu. Dusta adalah berkata tidak sesuai dengan realitas yang ada. Dia suka mengumbar fitnah dan memutar balikkan fakta yang ada. Jika dusta yang menjadi tolak ukur terhadap suatu perbuatan maka dusta itu pula yang menjadi hasil jeri payahnya.
Sebagaimana pepatah arab :
Sebagaimana pepatah aceh :
“ Soe rijang kap caplie ureung nyan yang keu eung, so nyang pajoh boh panah ureung nyan yang meugeutah”.
Jadi siapa yang menanam orang itu lah yang memetiknya, dan siapa yang melakukan maka orang itu lah yang menerima akibatnya. Maka mulailah segala sesuatu dengan niat yang baik, maka ia akan mendapat hal yang baik pula.
3. Meunyo jeut tapeulaku
On labu jeut keu aso kaya
Meunyo hanjeut tapeulaku
Aneuk teungku jeut keu beulaga
Analisa :
Sesuatu yang ada didepan mata kita tetapi kita tidak bisa mengalahnya, sebenarnya semua itu bisa kita kreasikan dan daya gunakan, Cuma kita kurang memilki ide kreatif didalam diri yang membuat kita jadi malas. Apabila kita pandai membudidayakan sesuatu yang tidak bermanfaat akan menjadi bermanfaat maka akan sangat berguna. Namun apabila sesuatu yang telah terbudidaya tidak bisa kita budidayakan maka sangatlah rugi.
4. Pat ujeun yang hana pirang
Pat prang yang hana reda
Analisa :
Setiap masalah yang kita hadapi pasti ada solusinya, walaupun membutuhkan waktu yang lama karena semua itu membutuhkan proses. Sesulit apapun masalah yang kita hadapi pasti ada penyelesaiannya. Sebagaimana RA. Kartini mengatakan dalam bukunya yang sangat populer “ habis gelap terbitlah terang “, setiap kesulitan selalu diikuti oleh kemudahan, Cuma itu semua tergantung bagaimana cara kita menghadapinya.
Al-qur’an menyebutkan :
Juga dalam ayat lain :
5. Jak ube lot tapak, duk ube lot punggong
Ngui beulaku tuboh, pajoh beulaku atra
Jak beulaku linggang, pinggang beulaku ija
Analisa :
Jak ube lot tapak, memahamkan kita pada sebuah pemahaman bahwa dalam menggunakan sesuatu sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan persediaan yang ada. Disini dianjurkan tidak berlebih-lebihan tetapi hidup sederhana yaitu sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an :
Artinya : “Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan”.
6. Meunyo tatem usaha
Adak han kaya udep seunang
Han tatem usaha
Pane teuka rheut mayang
Analisa :
Apabila kita giat berusaha maka kita akan mendapatkan hasil dari usaha kita sendiri, maka sedikit banyaknya kita pasti merasakan hasil dan jeri payah. Sekalipun Allah telah mejanjikan rezeki bagi tiap-tiap manusia yaitu :
Maka manusia juga harus berusaha dan jangan berpangku tangan karena rezeki itu tidak akan datang dengan sendirinya tetapi melalui usaha Allah memberikannya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-qur’an :
Artinya : “ Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum tersebut mengubahnya sendiri “.
7. Seura tajak-jak tapileh situek
Seura taduk-duk tacop keu tima
Analisa :
Daripada duduk melamun tak ada gunanya maka lebih baik melakukan sesuatu yang lebih berguna. Orientalis menyatakan : “Time is money” dan orang arab mengatakan :
Kita harus memanfaatkan waktu luang yang ada agar tidak terbuang sia-sia, karena yang sudah hilang tidak bisa digapai lagi, walaupun bisa tapi tidak akan sama dengan yang sudah kita lewati. Jadi jangan lalai maka pergunakanlah waktu sebaik-baiknya. Sebagaimana pepatah arab :
“ Tak kan kembali hari-hari yang telah berlalu “
8. 55 kapai ji tameung
2 geu 5 kapai ji bungka
Meunyo han troh tacout ngon reunong
Lon deung jioh lon peupe geulawa
Analisa :
Apabila niat dan keinginan sudah ada dalam hati maka dia akan menempuh berbagai cara untuk mendapatkan maksud dan keinginannya itu. Seberat apapun masalah yang dihadapinya, tapi bukanlah rintangan melainkan merupakan tantangan yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Karena barang siapa yang melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh niscaya ia akan mendapatkannya. Sebagaimana dalam sebuah hadist :
9. Tameu ‘en cato bek leupah-leupah
Meuroh boh 14 matee u punca
Ta meututo bek leupah-leupah
Peulara lidah yoh goh binasa
Analisa :
Lidah tidak bertulang dan lidah diibaratkan seperti harimau yang kapan saja bisa menerkam mangsanya. Sebelum memulai pembicaraan hendaknya dipikir baik atau buruk apa yang dibicarakan itu. Karena perkataan kita sendiri bisa terjadi malapetaka buat kita sendiri. Dan jangan memberi mudharat bagi orang lain.
10. Meuhai meuh ek cit tablo
Tapi budhoe han ek hareuga
Analisa :
Budi pekerti mencerminkan kepribadian seseorang, jika ia berbudi pekerti luhur maka ia memiliki pribadi yang luhur pula. Karena budi pekerti itu adalah sesuatu yang sangat berharga yang tidak bisa dinilai dengan apapun, tapi barang berharga lainnya bisa dihargakan dengan uang.
11. Beuhe rimung didalam uteun
Beuhe buya didalam krueng
Analisa :
Hebatnya seseorang tidak dapat dilihat darimana ia berasal dan dimana ia tinggal, tapi yang paling penting bagaimana ia bisa berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya dimanapun ia berada. Seseorang belum bisa dikatakan lebih hebat jika dalam suatu komunitas ia tidak bisa menampakkan kelebihan dan kemampuan yang ia miliki.
12. Lheuh bak misee meukumat bak janggot
Lom meusangkot rok-rok masa
Analisa :
Masalah yang tidak pernah terselesaikan, masalah itu selalu datang silih berganti, tak pernah habis bertubi-tubi.
13. Wajeb uroe jum’at, sunat uroe raya, meu utang bak judi
Meujanji bak cinta, meu ucap ‘oh bala, meurateb ‘oh gempa
Analisa :
Mengamalkan suatu yang wajib yang menjadi kewajiban kita hanya dilakukan pada waktu tertentu saja “wajeb uroe jum’at”, padahal salat wajib bukan hanya pada hari jum’at saja bahkan setiap hari ( 5 kali dalam sehari ) dalam waktu yang telah ditentukan, disamping itu ada juga salat-salat sunat sebagai ( penambal shalat fardhu ) yang tidak hanya dilakukan dalam 1 tahun 2 x pada hari raya tapi setiap saat kita bisa melakukannya. “Meucap ‘oh bala dan meurateb oh geumpa”, maksudnya ingat kepada Allah waktu datang musibah dan dalam keadaan yang tidak tenang sementara ketika kita diberikan nikmat selalu melupakannya.
14. Teungku jameun pijut-pijut, gadoeh kaluet baca do’a
Teungku jino tumbon-tumbon, gadoeh ek tren rinyeun istana
Analisa :
Pantun ini menggambarkan keadaan teungku zaman dahulu yang menyibukkan dirinya dengan urusan do’a, sampai-sampai dia tidak menghiraukan keadaan dirinya karena lebih sibuk beribadah tetapi berbeda dengan teungku-teungku zaman sekarang lebih sibuk dalam urusan dunia dibandingkan akhirat. Jadi sebutan teungku zaman sekarang itu hanya sebagai title saja.
15. Boh jok boh beulangan
Oh troek baro taboh nan
Analisa :
Sebelum kita bertindak, janganlah bermimpi atau berandai-andai terlalu tinggi untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, namun terlebih baiknya ketika buah hasil dari tindakan kita telah dapat kita kecapi barulah kita dapat menikmati hasil tindakan kita sendiri.
Seperti peribahasa indonesia :
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ketepian
Bersakit-sakit dahulu
Barulah bersenang-senang kemudian
16. Meutum beude meuble kilat
Meugah leu pacat alue purba
Han tatem trep, tatem meusiat
Malee lon that ngon ureung lingka
Analisa :
Melakukan sesuatu perbuatan haruslah berani menerima resiko yang akan terjadi, jangan sampai kalah sebelum bertanding karena itu merupakan suatu tindakan yang sangat memalukan, khususnya bagi kita sendiri.
17. Lam geurupoh meubek tapeuleh musang
Lam raga pisang bek peuleh tupe
Analisa :
Janganlah kita mengerjakan perbuatan yang telah jelas-jelas kita tahu akibatnya akan merugikan kita juga. Seperti peribahasa aceh menyatakan :
“ Bek tameu ‘en bak bineh mon “.
18. Toek-toek beuhargoe jiwoe u gampong
Aneuk kecibong jiwoe lam rimba
Ubeut lon pok-pok, lon cok lon ayoen
Gata dek payong lon nit peunawa
Analisa :
Pantun ini memberitahukan kita, sehebat apapun kita setelah dewasa atau setelah kita berhasil kita tidak boleh melupakan asal-usul keberadaan kita, khususnya orang tua kita yang telah melahirkan kita, mendidik kita sampai kita berhasil. Karena keberhasilan kita tiada lain karena do’a ibu kita juga, jangan seperti pribahasa indonesia yang berbunyi :
“ Air susu dibalas dengan air tuba “
19. Pisang mah geuprom di teupin
Pisang abit geuprom di para
Lon lakee meu ‘ah teuma bak abin
Lon lakee idien meungon ngon gata
Analisa :
Sebelum kita memulai sesuatu dan dimanapun kita berada hendaklah menjaga perilaku kita, bagaimana tingkah laku kita dengan orang yang lebih tua dan bagaimana tingkah laku kita dengan orang yang lebih muda, yang intinya kita harus dapat menyesuaikan tingkah laku kita dengan situasi dan kondisi yang sedang kita hadapi.
20. Bek harap pageu keube lam padee
Bek harap jantong pereuleh hatee
Jeut leumiek tanoh keube keumubang
Leumiek geu parang, gob mat kuasa
Analisa :
Sebaiknya janganlah kita terlalu mempercayai orang lain sebelum kita tahu siapa dia sebenarnya dan lebih baik kita sendiri yang turun tangan, jangan sampai kita dibodohi orang lain. Sehingga orang lain yang mengambil manfaatnya.
21. Sembahyang suboh ateuh kaso
Sembahyang luho ateuh rhung kuda
Sembahyang asa bak wate meu let-let
Sembahyang meugreb oh wate ‘isya
Analisa :
“Sembahyang suboh ateuh kaso” menggambarkan bahwa orang Aceh dalam melakukan perbuatan wajib itu selalu menunda-nunda, bahkan kalau tidak ada pun tidak apa-apa, tidak merasa bersalah karena sudah tidak memperdulikan kewajibannya. “Sembahyang mugreb ateuh wate ‘isya”, maksudnya melakukan kewajiban tidak pada tempatnya tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, tidak mematuhi akan kaidah yang telah ditetapkan.
22. Jingki hana bajoe
Nanggroe hana peutuwa
Terjemahan : Lesung padi tanpa biji, negeri tanpa pemimpin.
Analisa :
Organisasi merupakan satu perkumpulan yang didalamnya membahas berbagai masalah baik sosial maupun hukum, politik, yang terdiri dari beberapa orang yang sebagiannya jadi anggota yang satu lagi jadi ketua.
Setiap organisasi memerlukan seorang pemimpin untuk memimpin organisasinya, seperti negeri ini, apabila tidak ada pemimpin, maka sungguh hambarlah interaksi kehidupan yang terjadi dalam masyarakat.
23. Nibak taduek bah tajak
Meurumpok akai bicara
Terjemahan : daripada duduk lebih baik berjalan supaya dapat akal bicara.
Analisa :
Anjuran untuk mencari pengetahuan dan pengalaman. Kita tidak akan bisa menghadapi proses kerja kehidupan jika kita tidak berpengetahuan dan berpengalaman, agar semua kebutuhan hidup bisa tercapai dengan maksimal dan kita bisa mengkreatifkan daya cipta kita dengan kreatifitas-kreatifitas yang berasal dari bakat kita. Kita bisa membangun mengembangkan dan memajukan negara dengan pembangunan, oleh karena itu kita dituntut untuk menuntut ilmu seluas-luasnya dan sejauh-jauhnya. Sebagaimana dalam hadis rasul :
24. Adat meukoh reubong
Hukom meukoh pureih
Adat jeut meurangkaho takoeng
Hukom hanjeut beurangkaho
Takih seulama meusie adat ngon hukom
Takue puntong hana lon kira
Analisa :
Adat boleh kita buat bagaimana yang baik, namun hukum harus dijalankan sesuai dengan ketentuan syari’at islam tidak boleh ditambah dan dikurangi, jika bertentangan dengan hukum, nyawa pun rela dikorbankan.
25. Adat ban adat
Hukom ban hukom
Adat ngon hukom sama kembar
Analisa :
Adat menurut adat, hukum syari’at menurut hukum syari’at, namun saling menyatu, manakala adat dan hukum bersesuaian maka negeri ini pun menjadi aman, tentram dan tidak huru-hara. Seorang raja sebagai pemegang kekuasaan adat tidak mendapatkan keamanan dan ketentraman, jika memutuskan perkara diluar ketentuan syari’at, sebaliknya ketentuan-ketentuan syari’at pun tidak akan bernilai apa-apa, jika tidak terlibat oleh adat didalamnya, lebih lanjut Tgk Chik Kuta Karang menulis bahwa agama Allah di raja-raja itu bersaudara, yakni tidak ada artinya kesenangan raja-raja yang jauh dari agama Allah, sebaliknya tidak ada artinya kesenangan agama Allah yang jauh dari raja-raja.
puisi
TAK MUNGKIN
Tak mungkin lagi kita berlabuh pada muara
Tak mungkin aku dermaga yang terakhir
Adalah sebuah interlude bagimu
Bebaskan hampa yang menyiksa
Sementara terlalu berat untuk di salami
Sebagai beban yang menyiksa hari – hari ku
Sayang,,,,,
Untuk apa lagi kepura-puraan ini
Bebaskan aku bagai kapak elang di tengah sepi
Bila tak ada lagi cerita buat kita
Bila tak mungkin lagi damai mu
Menyertai langkah kita
Kutahu hanya sebuah pelarianmu
Mentari senja menetas tuk menyibak lagi jalanan
Bebaskan menapak dan dadungkan kehidupan
Aku akan memberinya arti
Seperti tuham mengukir sebuah puisi hidup
Kasih…..
Tak mungkin kita tertaut pada sebuah dermaga
KEGALAUAN
Saat gulau tanpa raut
Kita usir tembang biru
Dan bentengku makin megah
Lindungi jiwa di tengah badai
Tatkala larutnya malam terasa dinginya mencekam
Rembulan bertanya malu
Tembang kita kuncup……
Runtu sepi gempita
Aku terhimpit di buai harap
Terjebak diantara prinsip dan profesi
Dapatkah aku bertahan..?
Pelangi jiwa mulai semar
Terkikis waktu yang tak pasti
Aku rebah….
Terbaring di rumputan kemarau
Harapanku telah termala
Ku buka sehelai daun jendela
Sepi mengalan sendu
Ku tangguk aroma yang terhempas
Resah menggelisah
Sekelilingku meriah
Duka membengkak
Tembang pun lenyap
PERTANYAAN MEREKA
Salahkah mereka…………?
Jika berpaling dari janji-janji…!
Yang pernah terpotret
Padahal sudah terlalu lama mengunci diri
Dari segala titik dan koma.. koma…
Salahkah mereka…..?
Jika melangkahi garis batas
Yang telah lama terpasang
Pada raga yan telah rapuh..?
Padahal kesabaran telah lama mengekang diri
Dari setiap Tanya-tanya
Salahkah mereka…?
Jika mereka memutuskan diri dari semua tali rasa
Yang tak pernah punya rencana
Meski harus melangkahi lelah
Pada semua lorong yang telah tercecer aliran darah
Puisi
Tak mungkin lagi kita berlabuh pada muara
Tak mungkin aku dermaga yang terakhir
Adalah sebuah interlude bagimu
Bebaskan hampa yang menyiksa
Sementara terlalu berat untuk di salami
Sebagai beban yang menyiksa hari – hari ku
Sayang,,,,,
Untuk apa lagi kepura-puraan ini
Bebaskan aku bagai kapak elang di tengah sepi
Bila tak ada lagi cerita buat kita
Bila tak mungkin lagi damai mu
Menyertai langkah kita
Kutahu hanya sebuah pelarianmu
Mentari senja menetas tuk menyibak lagi jalanan
Bebaskan menapak dan dadungkan kehidupan
Aku akan memberinya arti
Seperti tuham mengukir sebuah puisi hidup
Kasih…..
Tak mungkin kita tertaut pada sebuah dermaga
Puisi
Dibalik bias senyum mu
Ada sebait puisi yang tercipta karena mu
Ada seikat kumbang yang ku rangkai untuk mu
Ada sebait asa yang mesra dalam anganku
Kini, aku ingin berpaling sejenak
Tentang masa lalu
Ketika ada rindu
Dan, malam ini pula
Kunikmati sepi
Diantara bahagia dan bias rindu
Saat ku tersenyum
Di sudut bayangan mu
Untuk menyapa purnama
“selamat malam Cinta”
Kisah Pohon Apel
Kisah Pohon Apel
Suatu masa, hiduplah sebatang pohon apel
besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu
setiap hari. Ia senang memanjatnya
hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang
dedaunan. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula
pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu
kini telah tumbuh besar dan tidak lagi
bermain-main dengan pohon apel itu
setiap harinya..
Suatu hari ia mendatangi pohon apel.
Wajahnya tampak sedih.
Ayo ke sini bermain-main lagi
denganku, pinta pohon apel itu.
Aku bukan anak kecil yang bermain-main
dengan pohon lagi, jawab anak lelaki itu.
Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi
aku tak punya uang untuk membelinya.
Pohon apel itu menyahut, Duh, maaf aku
pun tak punya uang Tetapi kau boleh
mengambil semua buah apelku dan
menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu.
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu
memetik semua buah apel yang ada di
pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak
pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.
Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
Ayo bermain-main denganku lagi, kata
pohon apel.
Aku tak punya waktu, jawab anak lelaki
itu. Aku harus bekerja untuk
keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk
tempat tinggal. Maukah kau menolongku?
Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah.
Tapi kau boleh menebang semua dahan
rantingku untuk membangun rumahmu, kata
pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua
dahan dan ranting pohon apel itu dan
pergi dengan gembira. Pohon apel itu
juga merasa bahagia melihat anak lelaki
itu senang, tapi anak lelaki itu tak
pernah kembali lagi. Pohon apel itu
merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu
datang lagi. Pohon apel merasa sangat
bersuka cita menyambutnya.
Ayo bermain-main lagi denganku, kata
pohon apel.
Aku sedih, kata anak lelaki itu. Aku
sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku
ingin pergi berlibur dan berlayar.
Maukah kau memberi aku sebuah kapal
untuk pesiar?
Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau
boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang
kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah. sahut pohon apel.
Kemudian, anak lelaki itu memotong
batang-batang pohon apel itu dan membuat
kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi
berlayar dan tak pernah lagi datang
menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi
setelah bertahun-tahun kemudian.
Maaf anakku, kata pohon apel itu. Aku
sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.
Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki
gigi untuk mengigit buah apelmu, jawab
anak lelaki itu.
Aku juga tak memiliki batang dan dahan
yang bisa kau panjat, kata pohon apel.
Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk
itu, jawab anak lelaki itu.
Aku benar-benar tak memiliki apa-apa
lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah
tua dan sekarat ini, Kata pohon apel
itu sambil menitikkan air mata.
Aku tak memerlukan apa-apa lagi
sekarang, kata anak lelaki. Aku hanya
membutuhkan tempat untuk beristirahat.
Aku sangat lelah setelah sekian lama
meninggalkanmu.
Oooh, bagus sekali. Tahukah kau,
akar-akar pohon tua adalah tempat
terbaik untuk berbaring dan
beristirahat. Mari, marilah berbaring!
Peluklah akar-akarku dan beristirahatlah
dengan tenang. jawab pohon apel.
Anak lelaki itu berbaring di pelukan
akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat
gembira dan tersenyum sambil meneteskan
air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua.
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang
bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita
meninggalkan mereka, dan hanya datang
ketika kita memerlukan sesuatu atau
dalam kesulitan. Tak peduli apa pun,
orang tua kita akan selalu ada di sana
untuk memberikan apa yang bisa mereka
berikan untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki
itu telah bertindak sangat kasar pada
pohon itu, tetapi begitulah cara kita
memperlakukan orang tua kita.
Dan, yang terpenting: cintailah orang
tua kita. Sampaikan pada orang tua kita
sekarang, betapa kita mencintainya; dan
berterima kasih atas seluruh hidup yang
telah dan akan diberikannya pada kita.
sejarah
Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masanya. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak.
Seri Sultan Iskandar Muda kemudian menikah dengan seorang Puteri dari Kesultanan Pahang. Puteri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan Isterinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai muzeum cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampong halamannya yang berbukit-bukit. Oleh kerananya Sultan membangun Gunongan untuk mengubati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.
Pada abad ke-16, Ratu Inggeris yang paling berjaya Elizabeth I sang Perawan, mengirim utusannya bernama Sir James Lancester kepada Kerajaan Aceh dan pula mengirim surat bertujuan “Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam.” serta seperangkat perhiasan yang tinggi nilainya. Sultan Aceh kala itu menerima maksud baik “saudarinya” di Inggeris dan mengizinkan Inggeris untuk berlabuh dan berdagang di wilayah kekuasaan Aceh. Bahkan Sultan juga mengirim hadiah-hadiah yang amat berharga termasuk sepasang gelang dari batu rubi dan surat yang ditulis diatas kertas yang halus dengan tinta emas. Sir James pun dianugerahi gelar “Orang Kaya Putih”. Hubungan yang misra antara Aceh dan Inggeris dilanjutkan pada masa Raja James I dari Inggeris dan Scotlandia. Raja James mengirim sebuah meriam sebagai hadiah untuk Sultan Aceh. Meriam tersebut hingga kini masih terawat dan dikenal dengan nama Meriam Raja James.
Selain Kerajaan Inggeris, Pangeran Maurits -pendiri dinasti Oranje- juga pernah mengirim surat dengan maksud meminta bantuan Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan menyambut maksud baik mereka dengan mengirimkan rombongan utusannya ke Belanda. Rombongan tersebut dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid. Rombongan inilah yang dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang singgah di Belanda. Dalam kunjungannya Tuanku Abdul Hamid sakit dan akhirnya meninggal dunia. Beliau dimakamkan secara besar-besaran di Belanda dengan dihadiri ileh para pembesar-pembesar Belanda. Namun karena orang Belanda belum pernah memakamkan orang Islam, maka beliau dimakamkan dengan cara agama nasrani di pekarangan sebuah Gereja. Kini di makam beliau terdapat sebuah prasasti yang dirasmikan oleh Mendinag Yang Mulia Pangeran Bernard suami menidiang Ratu Juliana dan Ayahanda Yang Maha Mulia Ratu Beatrix.
Pada masa Iskandar muda, Kerajaan Aceh mengirim utusannya untuk menghadap sultan Empayar Turki Uthmaniyyah yang berkedudukan di Konstantinompel. Kerana saat itu, sultan Turki Uthmaniyyah sedang gering maka utusan kerajaan Aceh terluntang-lantung demikian lamanya sehingga mereka harus menjual sedikit demi sedikit hadiah persembahan untuk kelangsungan hidup mereka. Lalu pada akhirnya ketika mereka diterima oleh sang Sultan, persembahan mereka hanya tinggal Lada Sicupak atau Lada sekarung. Namun sang Sultan menyambut baik hadiah itu dan mengirimkan sebuah meriam dan beberapa orang yang cakap dalam ilmu perang untuk membantu kerajaan Aceh. Meriam tersbut pula masih ada hingga kini dikenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Pada masa selanjutnya sultan Turki Uthmaniyyah mengirimkan sebuha bintang jasa kepada Sultan Aceh.
Kerajaan Aceh pula menerima kunjungan utusan Diraja Perancis. Utusan Raja Perancis tersebut semula bermaksud menghadiahkan sebuah cermin yang amat berharga bagi Sultan Aceh. Namun dalam perjalanan cermin tersebut pecah. Akhirnya mereka mempersembahkan seripah cermin tersbut sebagai hadiah bagi sang Sultan. Dalam bukunya Danis Lombard mengatakan bahwa Sultan Iskanda Muda amat menggemari benda-benda berharga. Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan melayu yang memiliki Bale Ceureumin atau Hall of Mirror di dalam Istananya. Menurut Utusan Perancis tersebut, Istana Kesultanan Aceh luasnya tak kurang dari 2 kilometer. Istana tersbut bernama Istana Dalam Darud Dunya. Didalamnya meliputi Medan Khayali dan medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah. Sultan Iskandar muda juga memerintahkan untuk memindahkan aliran sungai Krueng Aceh hingga mengaliri istananya. Disanalah sultan acap kali berenang sambil menjamu tetamu-tetamunya.
Kerajaan Aceh sepeninggal Sultan Iskandar Thani mengalami kemunduran yang terus menerus. Hal ini disebabkan kerana naiknya 4 Sultanah berturut-turut sehingga membangkitkan amarah kaum Ulama Wujudiyah. Padahal, Seri Ratu Safiatudin Seri Ta’jul Alam Syah Berdaulat Zilullahil Filalam yang merupakan Sultanah yang pertama adalah seorang wanita yang amat cakap. Beliau merupakan puteri Sultan Iskandar Muda dan Isteri Sultan Iskandar Thani. Beliau pula menguasai 6 bahasa, Spanyol, Belanda, Aceh, Melayu, Arab, dan Parsi. Saat itu di dalam Parlemen Aceh yang beranggotakan 96an orang, 1/4 diantaranya adalah wanita. Perlawanan kaum ulama Wujudiyah berlanjut hingga datang fatwa dari Mufti Besar Mekkah yang menyatakan keberatannya akan seorang Wanita yang menjadi Sultanah. Akhirnya berakhirlah masa kejayaan wanita di Aceh.
Pada masa perang dengan Belanda, Kesultanan aceh sempat meminta bantuan kepada perwakilan Amerika Serikta di Singapura yang disinggahi Panglima Tibang Muhammad dalam perjalanannya menuju Pelantikan Kaisar Napoleon III di Perancis. Aceh juga mengirim Habib Abdurrahman untuk meminta bantuan kepada Empayar Turki Uthmaniyyah. Namun Empayar Turki Uthmaniyyah kala itu sudah mengalami masa kemunduran. Sedangkan Amerika menolak campur tangan dalam urusan Aceh dan Belanda.
Setelah satu tahun perang, Sultan Aceh Mahmmud Syah mangkat karena wabah Kolera. Kerabat Sultan, Sultan Muhhamad Dawud Syah ditabalkan sebagai Sultan di Masjid Indra Puri. Sultan M. Dawud akhirnya meyerahkan diri kepada belanda pada tahun 1903 setelah dua Isterinya, anak serta Ibondanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904. Istana Kesultanan Aceh kemudian di luluhlantakkan dan diganti dengan bagunan baru yang sekarang dikenal dengan nama Pendopo Gubernor.
love
bila kau masih menganggap aku hanya sebagai teman janganlah kau beri harapan dalam hidup ku ini karena aku manusia yang butuh cinta dan kasih sayang dari diri mu seorang. tapi jika kau bimbang memilih antara aku dan dia kurelakan karena aku tak ingin bersatu dengan yang lain. semoga terbaca oleh mu
may 14 2003
-
Terkini
-
Tautan


